Kehidupan
manusia pada masa prasejarah tergantung pada lingkungan dan penguasaan
teknologi. Sumber-sumber subsistensi dari lingkungan ditambah dengan penguasaan
teknologi pada masa itu, mengakibatkan pola kehidupan berburu dan mengumpulkan
makanan. Selain itu, manusia juga memanfaatkan bentukan alam untuk
mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, gua dan ceruk menjadi salah satu
alternatif tempat tinggal bagi manusia pada masa prasejarah.
Selain sumber daya yang memadai, aspek-aspek fisik lingkungan merupakan faktor penting lainnya yang menentukan kelayakan suatu lokasi untuk permukiman. Dalam kaitannya dengan hunian gua, faktor-faktor tersebut meliputi morfologi dan dimensi tempat hunian, sirkulasi udara, intensitas cahaya, kelembaban, kerataan dan kekeringan tanah, dan kelonggaran dalam bergerak.
Masyarakat
pemburu dan pengumpul makanan menggunakan gua atau ceruk untuk lokasi hunian,
baik itu secara menetap maupun sementara. Ketergantungan masyarakat tersebut
terhadap sumberdaya lingkungannya mengakibatkan ada pola yang berbeda-beda pada
setiap wilayah. Sumberdaya lingkungan dan morfologi gua yang berbeda-beda
mengakibatkan adanya tipe-tipe hunian yang bervariasi. Tipe yang muncul
menunjukkan adanya satu lokasi yang menjadi pusat (central place) dari aktivitas dan mempunyai
lokasi-lokasi lainnya sebagai pendukung dalam melakukan aktivitas dan juga
tempat beraktivitas.